HI! Ini dita(nya) seputar buku vol.2!

ditanya seputar buku?


Hai sobat penanya!
WAAHH ITS BEEN A LOONG TIME SINCE I GREET U GUYS HERE!! (ꈍ⁠ᴗ⁠ꈍ )

Gimanaa niihh kondisi sobat penanyaa? Hope u guys are doing well yaa dimanapun dan kapanpun kalian berada! Hmmm.. basa basi dulu kaliyaa, Dita udah lamaaaa banget nggak upload konten karena punya kesibukan yang TAKBIRR!! SIBUK BANGET!!! (biasa mahasiswa tua... harap maklum...) Dita harus nyelesaiin magang+skripsi dan lain-lain gitudeh BUT THE MOST IMPORANT THING IS: IT'S ALLL DONE! huehehehe udahlah ya cukup masa kuliahnya, sekarang Dita mau fokus buat lebih sering menyapa sobat penanya di sini ^_^||  (oke stop randomnya, now we're about to discuss somethin' really serious here).

Mungkin, beberapa hari lalu sobat penanya cukup familiar dengan berbagai berita yang yaaa kurang menyenangkan untuk didengar dari sudut pandang "masyarakat" Sampai-sampai sudah banyak mahasiswa yang harus turun langsung ke jalan buat "KASIH PAHAM" para pejabat pemerintahan karena ya berbagai kebijakannya sudah sangat melenceng dari prinsip: "Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat" Big big applause with standing ovation dari Dita kepada para mahasiswa yang turut serta menggaungkan keluh kesah masyarakat selama kurang lebih 100 hari pasca pelantikan presiden RI yang baru. Serta seluruh masyarakat yang "masih melek" dan turut meramaikan berbagai platform social media untuk post #IndonesiaGelap. Once again, tetap lanjutkan perjuangan kita semua sebagai rakyat! Jangan pernah berhenti untuk menyuarakan opini kalian utamanya dalam mengkrititisi program kerja pemerintah yang memang sudah tidak sesuai dengan sistem pemerintahan negara kita: Demokrasi. (EITTSSS, yang penting di saat memberikan kritik dan saran tetap menggunakan bahasa yang memang baik. Tunjukkan bahwa kita orang-orang terpelajar, nggak kayak....)

Membahas tentang kondisi negara kita yang cukup meresahkan ini, mungkin sobat penanya diingatkan sedikit tentang gambaran Indonesia yang juga kacau balau pada zaman orde baru. Dari sini pasti sobat penanya udah tauu dong yaa, buku yang bakal Dita rekomendasikan ke sobat penanya? A little clue, novel ini karya salah satu penulis paling terkenal dalam negeri, yang mulanya berjuang dari jurnalis menjadi penulis. Salah satu karya beliau yang juga populer berjudul "Pulang" YAP, betul, kali ini Dita akan review sedikit tentang Laut Bercerita karya Leila S. Chudori ꈍ⁠ᴗ⁠ꈍ)

Novel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2017 ini menyajikan kisah yang ah sudahlah, Dita nggak bisa berkata-kata.. Selalu tertegun di setiap akhir babnya.. Rasanya setiap baca satu persatu babnya selalu ada perang antara hati dan otak Dita.. 

"Ya Tuhan.. dibawa lagi flashback ke tahun 1991... bakal ada seru-serunya dikit lah ya harusnya..."
"Ya Tuhan.. dibawa lagi balik ke realita tahun 1998.. kacau balau gini... Ini siapasih yang berkhianat?!?!"
"Ya Tuhan.. ini beneran ga ketemu nih? beneran Asmara udah nggak bisa lagi ketemu kakaknya?"

Novel ini dibuka dengan satu kalimat yang menyayat hati, lebih terlihat seperti pesan yang sudah tidak dapat disampaikan lagi kepada empunya.. "Kepada mereka yang dihilangkan dan tetap hidup selamanya" Begitulah pesannya. Memang kalau bahas tentang novel ini, isinya udah bukan cuma sekedar novel aja menurut Dita, ini adalah karya seni. Tokoh utama dari novel ini tentunya bernama Laut, tepatnya Biru Laut. Alasan mengapa dinamakan Laut? Yaa pasti sobat penanya yang udah pernah membaca novel ini tau pasti alasannya apa, such a beautiful yet tragic name. Dalam novel ini berkisah tentang perjuangan Laut, mahasiswa Fakultas Sastra Inggris yang berkuliah di Yogyakarta yang mendapatkan semangat perjuangannya bermula dari kejadian yang tak terduga. Namanya Ibu Ami, guru Bahasa Indonesia Laut pada saat dia masih kelas 5 SD di Solo. Ibu Ami adalah seseorang yang menginspirasi Laut untuk mencintai sastra karena pada saat seusianya, Ibu Ami memperkenalkan banyak puisi-puisi karya Amir Hamzah, Chairil Anwar, Rendra dan lain-lain. Bahkan seusia Laut, Ibu Ami aktif megajak Laut dan murid-muridnya untuk diskusi berbagai karya Balai Pustaka atau sastra dunia, lengkap juga dengan tokoh-tokohnya. Ibu Ami merupakan sosok yang tahu betul bagaimana cara membakar semangat gelora muridnya terhadap karya-karya sastra yang dibacakannya. Namun, suatu ketika Ibu Ami nggak masuk kelas untuk mengajar, menghilang gitu aja. Mulanya Laut dan teman-temannya mengira Ibu Ami sakit dan kemudian digantikan dengan guru baru. Tetapi Laut dan teman-teman semasa SD nya penasaran sekali dan berbondong-bondong ke kepala sekolahnya. Jadi secara tidak langsung, Laut sudah memiliki jiwa aktivis sejak kecil. Usut punya usut rupanya Ibu Ami berkemungkinan terkena peraturan "Bersih Diri dan Bersih Lingkungan" yang mana siapa saja yang orangtua atau keluarganya pernah menjadi tahanan politik dan berkaitan dengan Peristiwa 1965, ia tidak diperkenankan bekerja yang berhubungan dengan publik. Ibu Ami jelas seorang guru, maka mereka khawatir bahwa Laut dan teman-temannya akan dijejali pemikiran "komunisme".

Terdapat banyak sekali hal-hal indah yang ada di dalam novel ini, keindahan Anjani tentunya yang akan diutamakan oleh Laut dan akan selalu diingat oleh Laut, teman-teman seperjuangannya yang tidak hanya mampu membangkitkan gairah dalam diri Laut, tetapi juga menjadi "rumah kedua" bagi Laut ketika ia jauh dari rumahnya (karena mereka selalu akan berkumpul di basecamp kesayangan mereka). Serta salah satu manusia paling berharga di mata Laut, tidak lain dan tidak bukan yaitu Asmara Jati-adiknya-yang memiliki sifat yang jauh bertolakbelakang dengannya. Dalam novel ini juga menjelaskan Point of View dari Asmara yang semakin membuat novel ini terasa lebih hidup dan syarat akan emosi. Menurut Dita, dengan Kak Leila memberikan POV dari Asmara, di sini pembaca nggak cuma sekedar nangis biasa TAPI bahkan nangis bombay karena novel ini bukan hanya tentang siapa yang "ditangkap" dan "hilang" tetapi juga tentang siapa yang "ditinggalkan" dan merasa "kehilangan". Sebetulnya menurut Dita, keseluruhan dari novel ini penuh dengan keindahan. Bahkan pemilihan kosakata yang digunakan oleh Kak Leila sang penulis akan selalu memberikan sensasi "merinding" karena pembaca tidak hanya merasakan rasa sakit tetapi juga "mengerti" situasi dan kondisi yang dirasakan oleh setiap tokohnya. Terlebih lagi Kak Leila memberikan novel ini penuh ketelitian yang luar biasa dalam penggambaran dunia aktivisme tahun 1990-an, mulai dari dinamika organisasi bahkan ke metode-metode interogasi dan penyiksaan yang dilakukan oleh aparat-aparatnya. Even salah satu peristiwa yang dijelaskan dalam novel ini based on true story, yaitu Peristiwa Blangguan 1993 yang mana dalam peristiwa ini terjadi pemberontakan sebagai aksi pembelaan terhadap petani jagung. So sekalipun novel ini termasuk dalam karya fiksi, but at least untuk kalangan Gen-Z seperti Dita dan bahkan gen Alpha, dengan membaca novel ini bisa berusaha memahami sedikit sejarah yang telah terjadi. Karena ya bagaimanapun juga yang namanya sejarah kelam nggak semestinya diulang untuk kedua kali hanya karena kita "tidak tau" dan "tidak mau tau" kan?

However, bagi sebagian pembaca mungkin merasakan ada beberapa kelemahan yang lumayan terlihat dan sedikit mengganggu dalam novel ini. Kalau menurut Dita sendiri, ada beberapa teman seperjuangan Laut yang karakternya kurang terdalami. Jadi ada beberapa tokoh yang hanya muncul sekilas dan justru menimbulkan kebingungan bagi pembaca karena memiliki sifat yang mirip dengan tokoh yang lain. Selain itu, pada part-part dimana menjelaskan tentang penyiksaan, rasanya pace cerita menjadi melambat. Jadi somehow ada penurunan tensi, apalagi di tengah-tengah kisah persembunyian Laut dan kawan-kawannya di rumah keluarga besar Anjani. Hmm menurut Dita, part itu agak terasa "sedikit dipaksakan" dan kurang nyaman. Why tho? Karena di tengah kisah menegangkan mereka masih dalam situasi genting bersembunyi, tapi harus diselipkan adegan dewasa (18+) antara Laut dengan Anjani. Thats why I said pada bagian ini terkesan sedikit dipaksakan dan Kak Leila tidak menggunakan bahasa yang "sesuai" untuk pembaca di bawah umur. Ada beberapa kata yang jelas eksplisit menjelaskan adegan dewasa antara kedua tokoh tersebut. But overall keseluruhan alur maju-mundurnya tidak membuat pembaca kebingungan tentang garis besar cerita yang diangkat. 


Ada satu hal yang selalu Dita ingat dalam novel ini, yaitu percakapan antara Laut dengan Bram terkait apa arti pengkhianatan. Menurut Bram, bagai kisah Mahabharata sebetulnya di kehidupan kita, pengkhianat dan pahlawan adalah sebuah kata yang relatif. Kata Bram,
"Banyak sekali orang-orang yang diangkat menjadi pahlawan di masa Orde Baru yang mungkin suatu hari bisa saja dipertanyakan apa betul mereka memang berjasa dan berkontribusi. Tetapi memang benar, dalam perjuangan definisi antara pahlawan dan pengkhianat harus jelas. Orang yang suatu hari berkhianat pada kita biasanya adalah orang yang tak terduga, yang kau kira adalah orang yang mustahil melukai punggungmu."

Bagi sobat penanya yang merasa kurang nyaman dengan novel yang berbau kekerasan di sepanjang ceritanya, penuh penderitaan di berbagai sudut kisahnya, sebetulnya menurut Dita keseluruhan kisah Laut Bercerita bisa memberikan sudut pandang untuk kita agar selalu menghargai waktu yang masih diberikan oleh Tuhan dengan menggunakannya sebaik mungkin. Bahkan di tengah berbagai kekelaman yang mematikan yang dirasakan oleh Laut, Laut percaya bahwa tetap akan ada secercah harapan yang dapat muncul dalam bentuk apapun, termasuk dalam bentuk manusia. Menurut Laut, Kinan-temannya-dan Anjani-kekasihnya-merupakan sosok dua perempuan yang dapat mengembalikan kepercayaannya terhadap kekuatan cita-cita, kekuatan kemanusiaan untuk dapat bertahan dari segala aniaya, hujaman dan khianat. "Masih ada kebaikan yang tumbuh dan hidup di dalam gelap" kata Laut. 

Dita remind untuk sobat penanya biar siap mental dulu ya sebelum baca keseluruhan novel ini. Karena jujur experience baca novel ini bener-bener menguras energi Dita sampe di tahap Dita nggak mood makan sama sekali, nggak bisa tidur, rasanya numb aja gitu habis baca novel ini....  Kosong.... Kelam..... Bukannya selesai baca rasanya lega justru semakin banyak tanda tanya yang ada di otak Dita sehabis baca novel ini. And as a first born daughter, perasaan senasib sepenanggungan sebagai seorang kakak, rasanya sakit bukan main ketika kita harus menjelaskan pada adik kita untuk berusaha menguatkan orang tua kita di saat kita udah nggak berdaya apa-apa lagi. Di bab epilog, bab dimana Laut mengeluarkan seluruh emosi tertahannya pada adiknya, ada satu paragraf yang SUCCESSFULLY BIKIN DITA NANGIS SESENGGUKAN. Wanna clue? Ada di halaman 370 novel ini, to be precise di paragraf terakhir pesan Laut yang hanya bisa disampaikan lewat sayap-sayap ikan pari konon, karena sejak hari itu, Laut telah menyatu dengan laut yang sesungguhnya. Dan mungkin, hanya Asmara sang adik saja yang dapat membaca ceritanya dan menyampaikannya kepada dunia. Menurut Dita, sosok Biru Laut Wibisana akan selalu hidup sepanjang bumi ini masih dapat dipijak dan kisahnya akan dikenang oleh seluruh lautan dan seisinya.

 

Jadi gitu sobat penanya, buat yang penasaran bisa langsung tanpa babibubebo baca novel Laut Bercerita karya Kak Leila. Kalau menurut sobat penanya yang udah pernah baca novel ini, apadeh bagian atau bab yang paling berkesan menurut kalian? Jangan lupa komen di bawah yaa ^_^! For further information about this book bakal Dita cantumkan di bawah!



Judul Buku    : Laut Bercerita
Pengarang    : Leila Salikha Chudori
Penerbit        : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun Terbit  : Oktober 2017 (Cetakan Pertama)
Jumlah Halaman    : 379 halaman
Harga Buku            : Rp 115.000

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HI! Ini dita(nya) seputar buku vol.3!

HI! Ini dita(nya) seputar hangout place vol.4!