HI! Ini dita(nya) seputar puisi!


ditanya seputar puisi?


Hai sobat penanya!

        Berbicara seputar hobi, nggak sedikit sobat yang punya hobi buat nulis atau sekadar baca. Nah umumnya, kalau sobat suka nulis dan baca (bisa dibilang sepaket ya dua hobi ini hehe), sobat pasti nggak asing lagi sama yang namanya karya sastra. Karya sastra menurut Juwati (2017), itu perwujudan dari permainan kata si pengarang dengan isi atau makna tertentu. Jadi bisa dibilang kalau pengarang karya sastra itu menyalurkan isi pikiran, hati, dan berekspresi melalui karya yang mereka ciptakan sobat. Karya sastra ini pasti erat kaitannya sama bahasa, jadi nggak jarang pengarang atau pencipta karya sastra menyalurkan kreativitasnya melalui bahasa. 

     Pasti sobat udah familiar banget sama karya sastra satu ini, yaitu Puisi. Puisi sendiri kalau menurut Pradopo (2010), adalah karya estetis yang bermakna-artinya pasti memiliki arti-dan maknanya hendak disampaikan oleh pengarang dengan bahasa yang khas. Umumnya puisi ini memang tata bahasanya agak sulit dipahami sobat ಥ⁠‿⁠ಥ  EITS TAPI... bukan berarti puisi ini nggak ada maknanya. Justru penempatan kata dan penggunaan bahasa yang disusun sedemikian rupa itulah yang buat puisi jadi indah banget. Dan yaa, kalau menurut Dita sih, puisi itu nggak harus bisa dipahami sama orang lain, yang penting Dita bisa curahin semua isi pikiran, hati, dan bahkan pandangan terhadap segala sesuatu hal yang ada di dunia ini. Jadi, puisi itu emang untuk dinikmatii yaa sobat penanyaa (⁠◡⁠ ⁠ω⁠ ⁠◡⁠).

     Masih dengan puisi (karena emang topik kita kali ini adalah puisi), Dita mau kasih rekomendasi puisi dari sastrawan terkenal dari negeri kita tercinta, dari Indonesia. Eyang Sapardi Djoko Damono, pasti sobat penanya udah familiar banget kann sama beliau? Salah satu puisi beliau yang terkenal adalah "Yang Fana Adalah Waktu" yang dimuat di dalam buku antologi sajak "Hujan Bulan Juni" Makna di dalam puisi singkat itu seharusnya nggak terlalu sulit untuk dipahami. Sobat pasti udah ngerti secara langsung sejak pertama kali baca puisi ini, tersirat maknanya tapi pesannya langsung "masuk ke hati" banget. Mengingatkan kita bahwa memang waktu itu sangat mudah sekali untuk lepas dari genggaman kita. Bahkan waktu  terlalu sering disepelekan padahal, sekalipun kita berharga, waktupun juga begitu. Detik demi detik harus dapat kita manfaatkan dengan baik. Penting untuk menghargai keberadaan segala sesuatu yang ada di hidup kita sebelum kita ingat bahwa waktu bisa dengan sekejap menghilangkan segala sesuatu. Lebih tepatnya memang waktu yang fana, yang fana adalah waktu, bukan?

     "Kalau Dita sendiri, suka juga nggak buat puisi?"
      Jawabannya sudah pasti "IYA"
    
    Jujur Dita suka banget sama puisi dari sejak... Lupa? HEHE... Tapi mungkin udah dari SMP kaliya? Dita belum punya banyak temen banget waktu SMP, jadi ngerasa kalau butuh tempat cerita, ya mau dikeluarin kemana lagi kalau bukan ke puisi. Kalau puisi Eyang Sapardi tadi tentang waktu, giliran Dita deh yang tanya ke sobat penanya, menurut sobat, puisi Dita kali ini tentang apayaa?

Jangan lupa jawab jawab pertanyaan dari Dita kali ini di kolom komentar yaa sobat penanyaa ^-^



REFERENSI

Juwati. 2017. Diksi dan Gaya Bahasa Puisi-Puisi Kontemporer Karya Sutardji Calzoum Bachiri (Sebuah Kajian Stilistik). Jurnal Kajian Bahasa, Sastra dan Pengajaran (KIBASP). 1(1): 72-89.

Pradopo R. D. 2010. Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Komentar

  1. Izin menjawab kak, kalau medusa itu lebih ke konflik batin antara penulis dengan keadaan sekitarnya. Layaknya mata koin dengan dua sisi, medusa yang dikenal cantik, punya daya pikat tinggi juga, tetapi di satu sisi juga punya ular diatas rambutnya yang membahayakan bagi sekitarnya. Sosok medusa dalam puisi ini merepresentasikan bagaimana kejanya dunia ini bekerja, medusa yang tangguh harus melawan kecaman orang banyak, dengan keturunan lelaki munafik (yang entah siapa sosok itu), medusa harus berjuang sendirian menghadapi cara dunia ini bekerja. Bagi saya medusa ini punya daya pikat tersendiri di mata saya, sosok mitologi yunani, yang dikutuk athena , padahal poseidon penyebabnya, namun medusa harus menanggung luka2nya dengan sendirian. Mungkin itu kak, penjelasan saya terkait puisi yang kakak ciptakan. Diksi yang kakak gunakan sangat indah, setiap baitnya terasa begitu istimewa, semoga kakak dipanjangkan umurnya agar bisa membuat puiisi ciamik seperti ini lagi🤟🤟

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HI! Ini dita(nya) seputar buku vol.3!

HI! Ini dita(nya) seputar buku vol.2!

HI! Ini dita(nya) seputar hangout place vol.4!